Reading Time: 2 minutes

Apakah saat ini Anda tengah menjalankan usaha toko kelontongan di desa? Berapa penghasilan per bulannya? Stabil, stagnan, atau justru menurun? Terpikir untuk meningkatkan omzet per bulan, tapi belum tahu caranya? Mulai sekarang, yuk terapkan 5 cara di bawah ini, Jangan sampai modal habis gara-gara banyak barang yang tidak laku.

1. Lakukan Evaluasi dan Temukan Penyebabnya

Nyaris 99% bisnis kelontong gulung tikar gara-gara tidak pernah melakukan evaluasi. Tahunya cuma buka, ikut warung sebelah, dan berharap barang laku semua. Toko kelontong itu bukan praktik sihir atau magic yang segalanya bisa terjadi secara ajaib. Sebaiknya, terapkan hukum sebab-akibat ketika ingin memecahkan masalah di bidang ini.

Bisa jadi, toko kelontong Anda sepi gara-gara letaknya berjauhan dengan pemukiman. Ada pula yang disebabkan oleh ketidakpuasan pembeli terhadap pelayanannya. Misalnya Anda menolak semua permintaan utang dari pembeli hanya gara-gara takut tidak dikembalikan. Padahal tidak semua orang begitu. Akhirnya, si pembeli pindah ke lapak sebelah.

2. Lirik Komoditas yang Harganya Fluktuatif

Keuntungan yang didapatkan dari penjualan barang di toko kelontong umumnya tipis-tipis. Sebab, toko kelontong hanya mengambil selisih harga biar modalnya bisa diputar terus. Apalagi kalau belum memiliki pelanggan/pengecer yang membeli dalam jumlah besar. Untuk alternatifnya, coba mulai sekarang lirik komoditas yang harganya fluktuatif.

Misalnya kopi, cengkeh, merica, dan sebagainya. Di desa, rasa-rasanya tidak perlu ngoyo untuk mendapatkan komoditas tersebut. Sebab, para petani biasanya datang sendiri ke warung dan menjual komoditas dengan harga seadanya. Dengan bekal akses menuju pasar besar, Anda bisa mendapatkan selisih harga lebih banyak untuk komoditas tersebut.

3. Perbarui Desain Toko Kelontong agar Tampil Unik dan Menarik

Meskipun tinggal di desa, bukan berarti abai terhadap penampilan toko kelontong sendiri. Jangan sampai kalah sama toko kelontong modern di kota-kota. Kalau desainnya cuma begitu-begitu saja, jangan protes lo jika banyak pembeli yang lebih memilih singgah ke toko lain. Salah satu yang populer saat ini adalah desain toko kelontong serba-minimalis.

Desain ini menitikberatkan pada sisi praktis dan bernilai ekonomis. Misalnya bisnis kelontong Anda bernama Toko Ada-Ada Aja. Maka bagian atapnya coba dibikin melengkung dan buat desain bergambar senyuman yang terbuka. Kemudian bagian dalamnya, tempatkan rak-rak sesuai kategori produk agar pembeli lebih mudah mencari barang.

Berhubung namanya Toko Ada-Ada Saja, maka pelayanannya harus serba-ramah. Kemudian catat setiap pesanan dari pembeli yang belum ada di toko. Usahakan barang-barang di toko serba-lengkap sesuai dengan kebutuhan banyak orang yang datang.

4. Tingkatkan Penghasilan dengan Mendirikan POM Mini

Kebutuhan akan bahan bakar cukup tinggi karena saat ini banyak yang pakai motor kalau ke mana-mana. Menjadi pengecer bahan bakar kendaraan itu untungnya memang tidak sebesar jadi agen sih. Tapi cukup potensial jika hanya difungsikan untuk meningkatkan penghasilan toko kelontong. Belakangan, banyak toko kelontong yang menerapkan cara ini.

5. Beri Bonus untuk Pembeli yang Paling Rajin Singgah

Apakah termasuk pembeli yang rajin singgah, tapi jarang beli? Betul. Tak apalah keluar modal sedikit, asalkan hubungan Anda dengan mereka tetap terjalin dengan baik. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk memberikan bonus pada mereka? Bebas. Tapi kalau mau yang lebih natural, pilih hari-hari besar seperti saat datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Baca juga : 5 Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Kecil untuk Guru Honorer

Usaha toko kelontongan yang berhasil menerapkan cara-cara di atas biasanya sangat disukai oleh pembeli. Kata pepatah, “Pembeli itu tak ubahnya seperti raja.” Sebagai konsekuensinya, perlakukan pula layaknya raja-raja. Penuhi apapun kebutuhan mereka. Biar nantinya mereka datang lagi dan lagi seolah tak ada pilihan lain.

Penulis

Tulis Komentar