Tag

keuangan

Browsing
Waktu Baca / 2 Menit

Setiap perusahaan wajib membuat laporan keuangan untuk mengetahui kondisi perusahaan tersebut. Tidak hanya itu, laporan keuangan juga berperan penting untuk memberikan tanggung jawab perusahaan kepada stakeholder yang mungkin berinvestasi dalam bisnis tersebut.

Laporan keuangan memiliki empat komponen penting di dalamnya. Komponen yang harus ada dalam laporan keuangan yang dikutip dari Beecloud.id adalah:

  • Neraca: Laporan keuangan yang menampilkan informasi bagaimana posisi keuangan dari entitas pada tanggal tertentu. Biasanya pada akhir tahun.
  • Laporan Laba-Rugi: Laporan yang berisikan hasil operasi sebuah entitas selama periode tertentu. Umumnya dalam satu bulan atau satu tahun.
  • Laporan Ekuitas: Laporan ini menyajikan ikhtisar perubahan yang terjadi dalam ekuitas pemilik pada suatu entitas untuk suatu periode tertentu. Misalnya satu bulan atau satu tahun.
  • Laporan Arus Kas: Laporan arus kas menggambarkan mengenai jumlah kas masuk (penerimaan kas) dan jumlah kas keluar (pengeluaran kas) dalam suatu periode tertentu.

Agar ada lebih memahami cara membuat laporan keuangan, berikut langkah-langkah mudah membuatnya yang dikutip dari Jurnal.id:

Membuat Neraca Saldo untuk Laporan Keuangan

Neraca saldo merupakan langkah awal yang dilakukan ketika Anda ingin membuat suatu laporan keuangan. Secara garis besar, neraca saldo dapat diartikan sebagai daftar saldo rekening-rekening buku besar pada periode tertentu. Penyusunannya pun sangat mudah, Anda hanya perlu memindahkan saldo yang ada di buku besar ke dalam neraca saldo untuk disatukan. Saldo pada neraca saldo harus sama jumlahnya. Jika jumlah saldo debit tidak sama dengan jumlah yang ada di kredit maka dikatakan bahwa neraca saldo tidak seimbang. Anda harus memeriksa neraca tersebut karena dimungkinkan masih ada kesalahan

Penyusunan Jurnal Penyesuaian

Jika pada akhir periode akuntansi, terdapat data yang tidak lengkap atau tidak sempurna, maka perlu dicatat dalam jurnal penyesuaian. Umumnya para akuntan melakukannya dalam periode tertentu, biasanya saat laporan akan disusun. Pencatatan penyesuaian sama seperti pencatatan transaksi umumnya. Transaksi penyesuaian dicatat pada jurnal penyesuaian dan kemudian dibukukan ke dalam buku besarnya. Setelah itu saldo yang ada di buku besar siap diletakkan dalam laporan keuangan.

Keuangan
Sumber: iStock

Membuat Neraca Lajur (Worksheet)

Setelah melakukan penyesuaian, Anda perlu membuat neraca lajur. Neraca yang biasa disebut dengan worksheet ini akan memudahkan pada akuntan untuk melakukan penyusunan laporan keuangan. Saldo yang telah disesuaikan akan terlihat pada kolom neraca saldo yang disesuaikan. Saldo ini juga akan terlihat dalam neraca dan laporan laba-rugi.

Penyusunan Laporan Keuangan

Setelah semua data tersedia, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah Laporan Keuangan. Laporan ini terdiri dari laporan laba rugi yang berfungsi untuk menggambarkan kinerja perusahaan. Lalu, Laporan perubahan modal untuk melihat perubahan modal yang telah terjadi. Kemudian, terdapat neraca, yang berfungsi sebagai komponen untuk memprediksi likuiditas, solvensi, dan fleksibilitas. Terakhir adalah laporan arus kas yang bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan mengenai kas keluar dan kas masuk pada periode berjalan.

Baca juga: Seperti Apa Rasio Likuiditas Dalam Laporan Keuangan?

Penyusunan Neraca Saldo Setelah Penutupan

Para akuntan hanya perlu mengecek neraca saldo yang masih terbuka. Saldo dari akun-akun pada buku besar dikelompokan kedalam kelompok aktiva atau pasiva. Saldo antara kelompok aktiva dan pasiva pada neraca saldo ini juga harus seimbang. Namun perlu Anda ingat, saldo yang seimbang belum tentu benar tetapi saldo yang benar pasti seimbang.

Semoga langkah-langkah dalam membuat laporan ini dapat mempermudah Anda ketika membuatnya. Ketika membuat laporan ini pastikan Anda sudah memeriksanya dengan baik. Tujuannya adalah agar perusahaan atau manajemen tidak salah mengambil keputusan ketika laporan ini dikeluarkan.

Waktu Baca / 3 Menit

Pengertian Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas adalah salah satu analisis laporan keuangan yang berguna untuk membantu mengantisipasi kondisi masa depan. Sehingga rasio ini mampu menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya. Cara mengukur perusahaan itu likuid atau tidak, Anda dapat membandingkan komponen yang ada pada neraca.

Neraca adalah total aktiva atau aset lancar dengan total pasiva lancar (utang jangka pendek). Pengukuran ini dapat dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu.

Untuk penjelasan lebih jelas, rasio likuiditas merupakan gambaran kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini dilakukan dalam lingkup finasial dan harus tepat waktu sehingga likuiditas sering disebut dengan short term liquidty.

Baca juga: Hal yang Perlu Diketahui Ketika Melakukan Transfer Antar Bank

Lukuiditas
Sumber: iStock

Manfaat Rasio Likuiditas

Penggunaan rasio lukuiditas pada sebuah bisnis ternyata memiliki beberapa manfaat. Pertama, rasio likuiditas akan memudahkan nasabah (bagi lembaga keuangan atau bank) untuk mengetahui keuangan mereka. Sebuah perusahaan yang sehat harus bisa membayar beban jangka pendek yang dimiliki. Rasio ini dapat menentukan seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut untuk menyelesaikan hutangnya.

Manfaat yang kedua adalah agar bisa mengantisipasi dana yang diperlukaan saat terjadinya kebutuhan mendesak. Perusahaan bisa mengalokasikan keuangan dari beban dan modal yang dimiliki untuk hal-hal yang tidak terduga. Tindakan tersebut dapat dilakukan karena perhitungan rasio sudah dilakukan sebelumnya.

Sebagai penjelasan secara penuh, rasio ini memiliki beberapa jenis yang berbeda. Rasio likuiditas terdiri dari rasio lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio), rasio kas (cash ratio), dan rasio perputaran kas (cash turnover ratio). Berikut gambaran mengenai jenis rasio likuiditas yang biasa kita kenal dalam dunia akuntansi.

Jenis-jenis Rasio Likuiditas

Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio Lancar ini berguna untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan aktiva perusahaan yang likuid pada saat ini atau aktiva lancar (current asset). Jenis aktiva ini adalah aktiva yang dapat ditukarkan dengan kas dalam jangka waktu satu tahun. Rumus perhitungan rasio lancar adalah sebagai berikut:

Rasio Lancar (Current Ratio) = Aktiva Lancar (Current Assets) : Lutang Lancar (Current Liabilities)

Dengan menggunakan rasio ini, dapat diketahui jika semakin tinggi nilai rasio maka akan semakin lancar pula perusahaan tersebut untuk melakukan pembayaran beban jangka pendek mereka.

Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio cepat adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar tanpa melakukan perhitungan pada persediaan (inventory). Hal ini disebabkan, persediaan (inventory) merupakan hal yang membutuhkan waktu lama untuk dicairkan. Rumus yang digunakan untuk menghitung quick ratio adalah sebagai berikut:

Rasio Cepat (Quick Ratio) = (Aktiva Lancar – Persediaan) : Utang Lancar

Jika, nilai dari quick ratio yang didapat lebih dari 1.0 maka bisa dibilang kemampuan perusahaan tersebut dalam melunasi kewajiban (hutang) jangka pendeknya dinilai cukup baik. Sedangkan, jika nilai yang didapat berada di atas 3.0, maka perusahaan tersebut bisa dibilang kurang produktif.

Rasio Kas (Cash Ratio)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan uang kas perusahaan yang tersedia untuk melunasi kewajiban jangka pendek yang ditunjukan dari tersedianya dana kas atau setara kas. Contoh dana kas atau setara kas salah satunya adalah rekening giro. Rasio ini menunjukkan porsi jumlah kas dan setara kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Semakin besar rasionya semakin baik. Rumus perhitungan rasio kas adalah sebagai berikut:

Rasio Kas (Cash Ratio) = ((Kas + Setara Kas): Hutang Lancar) x 100 %

Rasio Perputaran Kas (Cash Turnover Ratio)

Rasio perputaran kas (cash turnover ratio) ini mampu menunjukkan nilai relatif antara nilai penjualan bersih terhadap kerja bersih. Hal tersebut merujuk pada keseluruhan komponen aktiva lancar yang dikurangi dari total utang lancar. Rasio ini dihitung dengan cara membagi nilai penjualan bersih dengan modal kerja. Rasio perputaran kas (cash turnover ratio) mampu menunjukan besarnya penjualan untuk modal yang dimiliki suatu perusahaan tersebut.

Pemanfaatan jenis-jenis rasio tersebut dalam perusahaan tentunya akan sangat membantu bagi operasional perusahaan. Jadi suatu bisnis yang berjalan bisa mengetahui kapan harus membayar kewajiban dan kemampuannya untuk menyelesaikan hal tersebut. Gunakan rasio ini untuk menjadikan perusahaan semakin berkembang. Agar perusahaan Anda dapat memaksimalkan potensinya, platform Mbizmarket.co.id bisa dijadikan pilihan. Semua produk yang dimiliki bisa dipasarkan dengan jangkauan yang luas. Jadikan Mbizmarket.co.id sebagai solusi untuk kegiatan bisnis Anda.

Waktu Baca / 3 Menit

Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk membandingkan kemampuan perusahaan guna mendapatkan laba (profit) dari pendapatan, aset, dan ekuitas. Bagian dari rasio profitabilitas digunakan untuk menunjukan besaran profit atau keuntungan yang dapat diperoleh dari kinerja suatu perusahaan.

Saat penerapan, Anda bisa mengunakan beberapa jenis rasio yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan perusahan. Rasio yang biasa dimanfaatkan diantaranya adalah Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin), Margin Laba Bersih (Net Profit Margin), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Sales (ROS), Return on Capital Employed (ROCE). Rasio-rasio Profitabilitas ini pada umumnya digunakan untuk menunjukan seberapa baiknya perusahaan dapat memperoleh keuntungan atau profit dari operasi perusahaan tersebut.

Rasio Profitabilitas
iStock

Jenis Rasio Profitabilitas

Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Rasio profitabilitas jenis ini digunakan untuk menilai seberapa besar persentase laba kotor terhadap pendapatan atau revenue yang dihasilkan dari penjualan. penghitungan ini akan  memaparkan besaran laba atau keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Perhitungan tersebut ternyata harus mempertimbangkan biaya yang terpakai untuk memproduksi produk atau jasa. Rumus yang digunakan adalah:

Gross Profit Margin = Penjualan – Harga Pokok Penjualan / Penjualan

Laba Bersih (Net Profit Margin)

Net profit margin merupakan rasio profitabilitas untuk mengetahui seberapa besar nilai persentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak penjualan. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Sebagai informasi, margin ini disebut juga sebagai profit margin ratio. Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Net profit margin dihitung dengan rumus berikut ini.

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak / Penjualan

Rasio Pengembalian Aset (Return on Assets Ratio)

Efisiensi perusahaan dalam mengelola asetnya ternyata dapat terlihat dari tingginya rasio tingkat pengembalian aset. Rasio profitabilitas ini digunakan untuk menilai besaran keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan, hal ini juga terhubung dengan sumber daya atau total aset yang dimiliki. Rasio ini biasa ditampilkan dalam bentuk persentase. Rumus yang digunakan untuk perhitungan rasio pengembalian aset adalah sebagai berikut:

ROA = Laba Bersih / Total Aset

Rasio Pengembalian Ekuitas (Return on Equity Ratio)

Rasio pengembalian aset adalah rasio profitabilitas untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang berasal dari investasi pemegang saham perusahaan tersebut. Rasio ini dihitung dari penghasilan perusahaan terhadap investasi para pemilik perusahaan. Pemegang saham yang terlibat adalah pemegang biasa dan pemegang saham preferen. Perhitungan ROE akan menunjukkan seberapa berhasil perusahaan mengelola modalnya hingga mendapatkan keuntungan. Istilah ini biasa disebut juga dengan rentabilitas modal sendiri atau rentabilitas usaha. Rumus yang digunakan adalah:

ROE = Laba Bersih Setelah Pajak / Ekuitas Pemegang saham

Return on Sales Ratio (Rasio Pengembalian Penjualan)

Return on Sales akanmenampilkan tingkat keuntungan perusahaan setelah mengeluarkan beban usaha. Rasio ini menunjukan seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari setiap rupiah penjualan yang juga disebut margin operasional atau margin pendapatan operasional. Berikut ini rumus untuk menghitung return on sales atau ROS:

Return on Sales (ROS) =  Laba Sebelum Pajak dan Bunga / Penjualan

Pengembalian Modal yang digunakan (Return on Capital Employed)

Return on Capital Employed atau ROCE dapati didefinisikan sebagai rasio profitabilitas untuk memperhitungkan keuntungan perusahaan berdasarkan modal yang digunakan. Rasio ini pada umumnya hadir dalam bentuk presentase. Modal yang dimaksud dalam rasio ini adalah seluruh ekuitas suatu perusahaan ditambah kewajiban tidak lancar atau total aset. Kemudian, keduanya dikurangi dengan kewajiban lancar yang dimiliki oleh perusahaan. ROCE akan memperlihatkan efisiensi dan profitabilitas modal atau investasi perusahaan. Selain itu, rasio ini juga akan mencerminkan EBIT atau Earning Before Interest and Tax yaitu pendapatan sebelum dilakukan pengurangan pajak dan bunga. Berikut ini rumus-rumus yang bisa digunakan untuk menghitung ROCE:

ROCE = Laba Sebelum Pajak dan Bunga / Modal Kerja

atau

ROCE = Laba Sebelum Pajak dan Bunga / (Total Aset – Kewajiban)

Berdasarkan penjabaran tersebut, ternyata efektifitas dan efisiensi perusahaan bisa dilihat dari profit yang dihasilkan. Jika resiko perusahaan semakin tinggi maka kondisi perusahaan akan dinilai semakin baik jika perhitungan rasio profitabilitas memiliki nilai yang tinggi. Agar perusahaan mendapatkan profit yang tinggi, platform Mbizmarket bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis Anda. Segera daftarkan usaha Anda untuk mencapai jangkauan konsumen yang lebih baik.

Waktu Baca / 3 Menit

Suatu perusahaan pasti memiliki beragam divisi dengan tugas dan kewajiban masing-masing, dimulai dari bagian pemasaran, keuangan, produksi, operasional, dan lainnya. Berdasarkan dari bagian tersebut, terdapat dua divisi yang memiliki posisi penting dalam perusahaan, yaitu marketing dan juga sales. Tetapi, seringkali keduanya dianggap memiliki tugas yang sama, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda.

Apa itu Marketing dan Sales?

Sebelum melakukan pembahasan lebih dalam, kami akan jelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian dari marketing dan sales. Mengutip dari Jurnal.id, sales memiliki definisi sebagai suatu bagian dalam perusahaan yang melakukan penjualan terhadap produk yang dimiliki oleh perusahaan. Selain itu, mereka juga harus memperlihatkan dan memastikan produk yang mereka jual dibeli oleh konsumen.

Berbeda dengan sales, marketing merupakan serangkaian kegiatan bisnis yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan. Selain itu, mereka juga memiliki tugas untuk memuaskan kebutuhan para konsumen. Hal ini dimaksudkan agar para konsumen kembali menggunakan produk dan jasa yang mereka pasarkan. Beberapa kegiatan dilakukan oleh marketing diantaranya adalah merencanakan dan menetapkan harga yang sesuai dengan ketentuan perusahaan dan nilai dari produk tersebut. Selain itu, mereka juga mempromosikan hingga mendistribusikan produk yang diluncurkan.

Marketing
Sumber: iStock

Cara Kerja Marketing dan Sales

Perbedaan mendasar terletak pada cara kerja yang mereka lakukan. Sales akan terjun langsung ke konsumen untuk menjual barang yang mereka miliki. Sales harus memiliki keahlian persuasif dan social yang baik, agar produk yang mereka jual diinginkan dan dibeli oleh konsumen. Cara yang bisa digunakan pun cukup beragam, dimulai dari telepon, melakukan demonstrasi produk, melalui media sosial, dan lain sebagainya.

Marketing memiliki tugas untuk melihat dan melakukan analisa pasar yang tepat agar sales bisa melakukan penjualan secara maksimal. Kegiatan ini dilakukan marketing sebelum sales terjun ke pasar yang di tuju. Dengan kata lain, divisi ini mempersiapkan segala macam strategi yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, marketing juga membaca kebutuhan para konsumen sehingga mereka memiliki minat hingga membeli produk yang dijual.

Target dan Jangka Waktu Kerja

Jika dilihat dari target, Sales dan marketing memiliki sasaran yang berbeda. Sales memiliki tujuan agar produk dapat laku terjual sesuai dengan pencapaian yang telah ditentukan. Selain itu, sales memiliki jangka waktu kerja yang relatif pendek. Apabila sales sudah melakukan penjualan maka proses kerja mereka sudah selesai.

Hal tersebut tidak terjadi pada marketing yang memiliki jangka waktu pekerjaan yang cukup panjang. Ini disebabkan karena marketing harus terus menjaga citra perusahaan melalui produk yang mereka jual. Selain itu, mereka harus terus menjaga dengan baik relasi antar penyedia barang dan juga konsumen. Tujuannya adalah untuk mempertahankan loyalitas dan membuat konsumen baru menjadi setia kepada produk mereka.

Kemudian, bagian ini juga harus berusaha menanamkan brand atau produk yang mereka miliki ke dalam pikiran para konsumennya. Strategi ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan menyediakan informasi mengenai produk dari perusahaan. Tindakan ini bertujuan untuk menimbulkan respon positif kepada konsumen agar mereka kembali menggunakan produknya.

sales dan marketing
A multi-ethnic group of young business men and women in semi-casual office clothes are sharing ideas and shaking hands to close a deal in an indoor, sunlit office.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sales merupakan salah satu bagian dari proses marketing yang dijalankan oleh perusahaan. Mereka bekerja bersama dan terintegrasi satu sama lain dengan tujuan untuk memberikan keuntungan secara maksimal. Jadi, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam proses bisnis pada suatu perusahaan. Agar penjualan bisnis Anda semakin maksimal, Mbizmarket.co.id memiliki platform khusus untuk Anda yang ingin melebarkan usaha secara online. Anda bisa memasarkan dan mengatur produk yang hendak ditayangkan secara leluasa. Jadikan Mbizmarket.co.id sebagai sahabat bisnis Anda.