Waktu Baca / 5 Menit

Setiap tahunnya, setiap perusahaan pasti akan menerbitkan laporan keuangan, yang di dalamnya termuat gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan itu sendiri, tentu saja telah dilakukan analisis kondisi keuangan yang mendalam.

Analisis keuangan perusahaan bisa memberikan hasil yang akurat, di antaranya dengan menggunakan rasio profitabilitas.

Apa Itu Rasio Profitabilitas? 

Jika mendengar istilah rasio ini, mungkin Anda langsung berpikiran bahwa rasio ini digunakan untuk menghitung profit atau keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan tersebut.

Pemikiran tersebut tak jauh beda dengan maknanya, di mana rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

Analis dan investor akan menggunakan rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan relatif atas pendapatan, aset neraca, biaya operasi, serta ekuitas pemegang saham.

Keuntungan yang dihitung tersebut merupakan total keuntungan yang mungkin dihasilkan di periode waktu tertentu. 

Dengan menggunakan rasio ini, maka akan bisa dilihat apakah perusahaan menggunakan asetnya sebaik mungkin atau tidak, demi diperolehnya laba dan nilai bagi pemegang saham.

Apabila hasil dari penghitungan rasio atau nilai tersebut terbilang tinggi, maknanya kinerja perusahaan tersebut baik serta memperoleh keuntungan yang memuaskan. 

Ragam Jenis Rasio Profitabilitas

Berbicara mengenai rasio profitabilitas ini, tentu saja tak hanya satu jenisnya. Ada beragam jenis rasio ini yang kerap kali digunakan oleh perusahaan dalam menyusun laporan keuangan, yang mana tiap jenisnya digunakan untuk menentukan hal yang berbeda pula.

Berikut adalah ulasan mengenai 8 jenisnya yang terbilang paling sering digunakan dalam menganalisis kondisi keuangan perusahaan. 

1. Gross Profit Ratio 

Pertama, ada Gross Profit Ratio atau Rasio Laba Kotor yang merupakan rasio untuk membandingkan laba kotor dengan penjualan.

Dengan menggunakan rasio ini, maka akan bisa dilihat seberapa banyak penghasilan dari aktivitas bisnis, dengan memperhitungkan biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau jasa.

Jika rasio laba kotor yang diperoleh relatif tinggi, maknanya terdapat efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi inti. Jika begini, biaya operasi, biaya tetap, dividen, serta depresiasi yang dikeluarkan masih bisa tertutupi. Kondisi yang seperti ini juga memungkinkan diperolehnya laba bersih oleh perusahaan.

Hal yang berbeda tentu bisa disimpulkan jika sekiranya rasio yang diperoleh terbilang rendah. Rendahnya rasio ini menunjukkan tingginya harga pokok penjualan barang atau jasa perusahaan tersebut.

Hal ini bisa jadi disebabkan karena rendahnya harga jual, kebijakan pembeli yang merugikan, ketatnya persaingan pasar, serta salahnya teknik promosi yang dilakukan oleh perusahaan.

Cara Menghitung:
Dalam menghitung Gross Profit Ratio atau Rasio Laba Kotor ini sendiri, perlu diketahui terlebih dahulu nilai laba kotor.

Nilai laba kotor diperoleh dari pengurangan pendapatan penjualan atas harga pokok penjualan. Laba kotor tersebut kemudian dibagi dengan pendapatan penjualan. Hasil yang diperoleh dari pembagian tersebut adalah nilai Gross Profit Ratio atau Rasio Laba Kotor.

2. EBITDA Margin

Jenis rasio ini selanjutnya adalah EBITDA Margin, yang mana EBITDA merupakan singkatan dari Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization. Dalam Bahasa Indonesia, EBITDA Margin ini lebih dikenal sebagai Marjin Penghasilan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi.

Dengan menganalisis EBITDA Margin ini, maka perusahaan bisa dengan mudah membandingkan profitabilitasnya dengan perusahaan lain, dikarenakan biaya yang terbilang fluktuatif tak termasuk di dalamnya.

Sayangnya, nilai EBITDA Margin ini bisa sangat berbeda dengan laba bersih dan generasi arus kas aktual, padahal 2 hal tersebut merupakan indikator penting dari perusahaan yang baik. 

3. Net Profit Margin 

Net Profit Margin atau dikenal dengan istilah Marjin Laba Bersih dalam Bahasa Indonesia. Marjin Laba Bersih ini merupakan rasio yang digunakan untuk menilai persentase laba bersih yang diperoleh, setelah sebelumnya dikurangi dengan pajak atas pendapatan dari penjualan.

Semakin tinggi nilai dari Marjin Laba Bersih, berarti semakin baik pula jalannya operasi perusahaan. Dengan mengetahui marjin laba bersih ini, maka akan diperoleh gambaran tentang seberapa menguntungkannya perusahaan, setelah semua biaya, misalnya seperti pajak dan bunga, ikut diperhitungkan.

Cara Menghitung:
Nilai dari Marjin Laba Bersih ini sendiri diperoleh dengan membagi jumlah laba bersih setelah pajak dengan penjualan.

4. Return of Assets Ratio (ROA)

Jenis dari rasio profitabilitas selanjutnya yang juga kerap kali digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan adalah Return of Assets (ROA). Dalam Bahasa Indonesia, istilah ini lebih dikenal sebagai Rasio Pengembalian Aset.

Melalui perhitungan ROA, maka akan diperoleh persentase keuntungan perusahaan, terkait dengan sumber daya atau total asetnya. Dengan melibatkan banyaknya aset yang digunakan, hasil penghitungan rasio ini bisa memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan mengelola aset yang dimilikinya.

Jika nilai penghitungan rasio ROA ini terbilang rendah, maknanya aset perusahaan tersebut akan dianggap makin intensif, sehingga memerlukan investasi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

Investasi dengan jumlah besar tersebut diperlukan oleh perusahaan dalam rangka membeli mesin, serta peralatan, yang berguna untuk menghasilkan pendapatan.

Cara Menghitung:
Penghitungan rasio ROA ini sendiri dilakukan dengan membagi pendapatan hasil dengan total nilai aset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. 

5. Return on Equity Ratio (ROE)

Return on Equity Ratio atau Rasio Pengembalian Ekuitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari investasi pemegang saham.

Rasio yang diperoleh nantinya, akan disajikan dalam bentuk persentase. Rasio ROE ini sendiri akan menunjukkan apakah perusahaan berhasil dalam mengelola modal yang diberikan padanya dengan maksimal. 

Tingginya nilai rasio ROE bisa menjadi salah satu alasan kuat seseorang untuk membeli saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, jika nilai rasio ROE ini rendah, coba berpikir dua kali untuk membeli sahamnya.
Cara Menghitung:
Nilai rasio ROE ini sendiri bisa diperoleh dengan melakukan pembagian antara laba bersih setelah pajak dengan ekuitas pemegang saham di perusahaan tersebut. 

6. Return on Invested Capital (ROIC)

Return on Invested Capital Ratio (ROIC) merupakan jenis rasio profitabilitas yang menjadi tolak ukur pengembalian yang dihasilkan oleh semua penyedia modal.

Penyedia modal tersebut termasuk di dalamnya, pemegang obligasi dan pemegang saham. ROIC ini sendiri lebih dikenal dengan istilah Pengembalian Modal yang Diinvestasikan di Indonesia. 

ROIC bisa dibilang relatif mirip dengan ROE, bedanya terletak pada cakupan pengembaliannya. Dalam menghitung nilai ROIC, tercakup di dalamnya pengembalian yang dihasilkan dari modal yang dipasok oleh pemegang obligasi.

Cara Menghitung:
Untuk mendapatkan nilai ROIC, digunakan EBIT yang merupakan pendapatan yang dihasilkan sebelum dikurangi dengan beban bunga.

7. Return on Sales Ratio (ROS)

Selanjutnya, ada Return on Sales Ratio (ROS) atau dikenal juga dengan istilah Rasio Pengembalian Penjualan.

Rasio satu ini akan memberikan gambaran mengenai tingkat keuntungan perusahaan setelah pembayaran biaya-biaya variabel produksi sebelum dikurangi dengan pajak dan bunga. Biaya yang dimaksud tersebut misalnya seperti biaya pembelian bahan baku dan upah pekerja.

Dengan menghitung rasio ROS ini, maka akan bisa dilihat seberapa banyak keuntungan yang diperoleh untuk setiap rupiah penjualan yang dilakukan sebelumnya.
Cara Menghitung:
Rasio ROS dihitung dengan membagi laba sebelum pajak dan bunga dengan penjualan terlebih dahulu, lalu mengalikannya dengan 100 persen. 

8. Earning per Share (EPS)

Terakhir, Earning per Share (EPS) yang merupakan rasio atas tingkat kemampuan per lembar saham dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

EPS menjadi hal yang sangat diperhatikan nilainya oleh manajemen perusahaan, pemegang saham, serta para calon pemegang saham, karena merupakan indikator penting dari keberhasilan perusahaan tersebut.

Cara Menghitung:
Deretan nilai yang patut diketahui sebelum mencari nilai EPS adalah laba bersih setelah pajak, dividen saham preferen, serta jumlah saham biasa yang beredar. Pertama, lakukan dahulu pengurangan laba bersih setelah pajak atas dividen saham preferen.

Setelah hasilnya diperoleh, langsung dibagi dengan jumlah saham biasa yang beredar, Hasil akhirnya tersebut merupakan nilai dari EPS. 

Fungsi Rasio Profitabilitas

1. Mengetahui Tingkat Keuntungan Perusahaan 

Dengan adanya rasio ini, maka akan bisa dengan mudah dilakukan penghitungan akan tingkat keuntungan perusahaan tersebut.

Hasil dari penghitungan rasio tersebut, akan menunjukkan apakah dalam periode waktu tertentu, perusahaan tersebut memperoleh keuntungan dalam jumlah banyak, sedikit, atau malah mengalami kerugian. 

2. Mengetahui Posisi Keuntungan Perusahaan secara Berkala 

Dengan dilakukannya penghitungan rasio ini secara berkala alias dalam periode waktu tertentu secara berkelanjutan, maka akan bisa dilihat posisi keuntungan perusahaan tersebut.

Apakah keuntungan yang diperoleh perusahaan pada tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahu sebelumnya atau malah kebalikannya? Pertanyaan tersebut akan bisa terjawab melalui rasio ini. 

3. Mengetahui Keuntungan Bersih yang Diperoleh oleh Perusahaan 

Keuntungan atau laba dalam perusahaan secara umum terbagi 2, yakni ada laba bersih dan ada laba kotor. Adanya penghitungan rasio satu ini, akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui seberapa banyak keuntungan bersih yang diperolehnya.

Keuntungan bersih merujuk pada keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi dengan pajak dan besaran modal sendiri. 

4. Mengetahui Produktivitas Modal Perusahaan 

Dengan mengetahui berapa rasio keuntungan sebuah perusahaan, maka akan bisa diketahui juga bagaimana produktivitas modal yang dimiliki perusahaan, baik itu modal sendiri atau pinjaman.

Nilai rasio yang tinggi menunjukkan bahwa modal yang dimiliki terkelola dengan baik, sehingga produktivitasnya tinggi dan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

5. Menjadi Bahan Pertimbangan bagi Para Investor 

Tak hanya bisa difungsikan atau dimanfaatkan oleh perusahaan, adanya rasio ini juga bisa diandalkan oleh para investor dalam memilih perusahaan untuk menjadi tempat investasi.

Seorang investor tentu tak ingin jika modal yang telah diinvestasikannya di suatu perusahaan, tak memberikan keuntungan seperti yang diharapkannya. 

Nilai rasio yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut layak dijadikan sebagai tempat investasi. Dengan begini, para investor pun tak perlu ragu untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut. Hal yang sama juga berlaku untuk para pemilik saham yang ingin menanam sahamnya di perusahaan tersebut. 

Adanya rasio profitabilitas membuat perusahaan bisa dengan mudah mencari tahu apakah perusahaan tersebut memperoleh keuntungan atau tidak. Jika memang memperoleh keuntungan, berapa besar persentase keuntungan yang diperoleh tersebut.

Penyusunan laporan keuangan sebuah perusahaan, tak akan bisa dilepaskan dari setiap rumus penghitungan rasio satu ini.

Tulis Komentar