Waktu Baca / 4 Menit

Suatu perusahaan biasanya melakukan suatu laporan keuangan dengan siklus tertentu yang bernama siklus akuntansi. Pelaporan ini nantinya bertujuan untuk mengetahui segala macam proses transaksi yang terjadi dalam perusahaan.

Siklus ini sangat penting karena akan mencatat seluruh kegiatan keuangan dari perusahaan tersebut.

Pengertian Siklus Akuntansi

Siklus akuntansi memiliki pengertian sebagai aktivitas pengumpulan dan pengolahan data akuntansi secara sistematik dalam satu periode akuntansi tertentu.

Proses yang dilakukan pun berjenjang dimulai dari identifikasi, analisis, dan juga merekam seluruh kegiatan akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan. Semua aktivitas ini nantinya harus bisa dipertanggungjawabkan dan diterima oleh perusahaan.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, siklus akuntansi ini nantinya harus bisa dipertanggungjawabkan. Maka dari itu siklus akuntansi ini tidak bisa dibuat sembarangan.

Terdapat kaidah akuntansi, prosedur, metode dan teknik yang digunakan agar pelaporan siklus akuntansi ini memiliki tingkat keabsahan yang tinggi.

Tahapan Siklus Akuntansi

Ada 11 tahap siklus akuntansi yang lengkap. Namun, terdapat dua tahap yang bersifat optional untuk dilakukan oleh akuntan. Berikut tahap-tahap siklus akuntansi lengkap.

1. Identifikasi Transaksi Sebagai Permulaan Siklus Akuntansi

Tahap ini merupakan tahap pertama dalam siklus akuntansi. Akuntan akan melakukan identifikasi transaksi yang telah dilakukan. Tidak semua transaksi dapat dicatat oleh akuntan.

Transaksi yang perlu dicatat adalah transaksi yang mengakibatkan perubahan posisi keuangan perusahaan dan dapat dinilai ke dalam unit moneter secara objektif. Tidak hanya itu, transaksi yang dicatat juga harus memiliki bukti yang sah.

Bukti yang biasa digunakan adalah kuitansi, nota, faktur, bukti kas keluar dan lainnya.

2. Analisis Transaksi

Langkah selanjutnya adalah analisis pengaruh seluruh transaksi yang ada terhadap posisi keuangan.

Terdapat persamaan yang biasa digunakan untuk analisis transaksi, yaitu: Aktiva = Kewajiban + Ekuitas

Sistem pencatatan yang digunakan adalah double-entry system, maksudnya adalah setiap transaksi yang dicatat akan berpengaruh terhadap posisi keuangan di-debit dan di-kredit dalam jumlah yang sama.

Jadi, setiap transaksi yang terjadi akan memengaruhi sekurang-kurangnya dua rekening pembukuan.

3. Pencatatan Transaksi di Jurnal

Setelah semua dianalisis, semua transaksi yang terjadi kemudian dicatat secara tertata dan runtut di buku jurnal.

Pengertian jurnal sendiri adalah sebagai suatu catatan kronologis tentang transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu periode akuntansi. Proses pencatatan pada di buku jurnal juga dikenal dengan istilah penjurnalan.

Jurnal memiliki dua jenis yaitu jurnal umum dan khusus:

Jurnal umum dikenal dengan istilah jurnal saja, biasanya terdiri dari pencatatan transaksi dimasukkan ke dalam satu rekening yang di-debit dan satu rekening di-kredit.
Berbeda dengan jurnal umum, jurnal khusus diselenggarakan untuk meningkatkan efisiensi pencatatan terhadap transaksi yang berulang. Contohnya adalah jurnal penjualan, pembelian, penerimaan dan lainnya.

4. Posting Buku Besar

Selanjutnya, transaksi yang tercatat harus di-posting dalam buku besar yang berisikan kumpulan rekening-rekening pembukuan. Masing-masing dari rekening tersebut digunakan untuk mencatat informasi tentang aktiva tertentu. Umumnya setiap rekening mempunyai kode-nya masing-masing.

5. Penyusunan Neraca Saldo

Neraca saldo adalah daftar saldo rekening-rekening buku besar pada periode tertentu. Cara menyusun neraca saldo sangat mudah, Anda hanya perlu memindahkan saldo yang ada di buku besar ke dalam neraca saldo untuk disatukan.

Baca juga:
Pengendalian Biaya Tepat untuk Bisnis Terus Melesat

Saldo pada neraca saldo harus sama jumlahnya. Jika jumlah saldo debit tidak sama dengan jumlah yang ada di kredit maka dikatakan bahwa neraca saldo tidak seimbang, masih ada kesalahan.

Jika demikian, maka akuntan harus mencari kesalahan yang terjadi sebelum laporan disusun.

6. Penyusunan Jurnal Penyesuaian

Jika pada akhir periode akuntansi, terdapat kesalahan, tidak lengkap, atau sempurna, maka perlu dicatat dalam jurnal penyesuaian. Umumnya para akuntan melakukannya dalam periode tertentu, biasanya saat laporan akan disusun.

Pencatatan penyesuaian sama seperti pencatatan transaksi umumnya. Transaksi penyesuaian dicatat pada jurnal penyesuaian dan kemudian dibukukan ke dalam buku besarnya. Setelah itu saldo yang ada di buku besar siap disajikan dalam laporan keuangan.

7. Penyusunan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian

Para akuntan hanya perlu menyusun neraca saldo kedua dengan cara memindahkan saldo yang telah disesuaikan pada buku besar ke dalam neraca saldo yang baru. Saldo dari akun-akun pada buku besar dikelompokkan kedalam kelompok aktiva atau pasiva.

Saldo antara kelompok aktiva dan pasiva pada neraca saldo ini juga harus seimbang. Namun, ingat saldo yang seimbang belum tentu benar tetapi saldo yang benar pasti seimbang.

8. Penyusunan Laporan Keuangan

Setelah semua data tersedia, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah Laporan Keuangan. Berikut susunan laporan keuangan:

  • Laporan laba rugi, untuk menggambarkan kinerja perusahaan.
  • Laporan perubahan modal, untuk melihat perubahan modal yang telah terjadi.
  • Neraca, dapat digunakan memprediksi likuiditas, solvensi, dan fleksibilitas.
  • Laporan arus kas, memberikan informasi yang relevan mengenai kas keluar dan kas masuk pada periode berjalan.

9. Penyusunan Jurnal Tertutup dari Siklus Akuntansi

Jurnal penutup hanya dibuat pada akhir periode akuntansi saja. Rekening yang ditutup hanya rekening nominal atau rekening laba-rugi.

Caranya adalah dengan membuat nihil rekening terkait. Rekening-rekening nominal harus ditutup karena rekening tersebut digunakan untuk mengukur aktivitas atau aliran sumber-sumber yang terjadi pada periode berjalan.

Pada akhir periode akuntansi, rekening nominal sudah selesai menjalankan fungsinya sehingga harus ditutup. Selanjutnya, pada periode berikutnya dapat digunakan kembali untuk mengukur aktivitas yang baru dan mulai terjadi.

10. Penyusunan Neraca samldo Setelah Penutupan (Opsional)

Langkah yang bersifat opsional ini merupakan daftar saldo rekening-rekening buku besar setelah dibuatnya jurnal penutup. Oleh karena itu neraca saldo ini hanya memuat saldo rekening-rekening permanen saja.

Tujuan pembuatan neraca saldo setelah penutupan adalah untuk memperoleh keyakinan bahwa saldo yang seimbang sudah benar.

11. Penyusunan Jurnal Pembalik (Opsional)

Tujuan jurnal pembalik adalah menyederhanakan prosedur pencatatan transaksi-transaksi tertentu yang terjadi secara repetitif pada periode berikutnya. Jurnal pembalik secara umum dibuat pada awal periode berikutnya. Caranya dengan membuat jurnal pembalik dari jurnal penyesuaian yang telah dibuat.

Dengan kata lain membalikan akun yang telah dibuat pada jurnal penyesuaian dari yang awalnya debit menjadi kredit dan dari yang awalnya kredit menjadi debit.

Kesimpulan Siklus Akuntansi

Siklus akuntansi ini memiliki peran yang penting bagi perusahaan karena dalam siklus tersebut muncul sebuah laporan keuangan.

Laporan ini nantinya akan berfungsi untuk mengetahui kondisi perusahaan dan pengambilan keputusan oleh manajemen. Jadi, seluruh siklus akuntansi ini perlu dilakukan secara benar dan presisi karena perannya yang sangat penting bagi perusahaan.  

Tulis Komentar