Merancang mimpi dengan busana.

I don’t design clothes. I design dreams

Ralph Lauren

Siapa yang tidak kenal merek dagang Ralph Lauren? Perusahaan yang bergerak di bidang mode pakaian ini telah berdiri sejak 1967. Awalnya Ralph adalah seorang sales yang memiliki ide untuk membesarkan perusahaan sebelumnya, namun ditolak oleh bosnya. Kemudian Ralph bertemu dengan Beau Brummel. Pertemuan ini kemudian melahirkan merek dagang Polo Fashion Inc, yang akhirnya berganti nama menjadi Ralph Lauren Corporation. Pada Juni 2019, Ralph Lauren mendapatkan gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris.

Di Indonesia sendiri, perusahaan konveksi Ralph Lauren telah berdiri sejak 1980-an, yang memberikan model pakaian polo dengan gaya klasik dan sporty. Produknya banyak dijumpai di toko-toko pakaian, baik di pusat perbelanjaan ataupun toko online. Ralph Lauren berhasil menjadikan perusahaan yang dirintisnya melanglang buana. Perusahaan ini menyebar di berbagai belahan dunia.

Konveksi Nasional

Berbicara tentang dunia konveksi nasional, tentu tidak lepas dari perusahaan asal Bandung C59 yang telah berdiri sejak 1980-an dan masih eksis hingga saat ini. Produk buatan C59 terkenal dengan teknik sablonnya dan bahan kaosnya yang berkualitas. C59 ini salah satu pionir bisnis clothing modern, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Berbeda dengan tren mode pakaian lainnya, bisnis konveksi dengan mengandalkan kaos dan sablon ini memang memiliki pasar sendiri, yaitu remaja. Pada tahun 1990-an, kaos dan hasil sablon C59 adalah salah satu yang terbaik di Indonesia.

Perkembangan konveksi nasional tumbuh semakin pesat karena hadirnya tren-tren baru dalam berbusana. Jika dilihat dari sudut pandang dunia konveksi, tahun 1990-an memiliki tren yang unik yaitu adanya ikatan yang erat antara kaos (merhandise) dan musik. Sinergi antara dua elemen tersebut melahirkan sebuah tren baru, yaitu distro. Tumbuhnya ekosistem usaha clothing yang berasal dari kota yang mendapat julukan Paris van Java atau Bandung ini ternyata bisa mempengaruhi banyak pengusaha-pengusaha muda di tanah air.

Ilustrasi

Fashion Masa Kini dan Peluang Usaha

Di awal perkembangannya, distro dibentuk untuk menyuplai gaya atau fashion para skater. Namun seiring dengan tren busana yang bergerak dinamis, beberapa komunitas skateboard di Kota Kembang akhirnya melihat peluang besar, bahwa outfit pemain skateboard ini semakin digemari remaja. Seperti awal mula salah satu merek dagang Distro yang cukup besar di Kota Bandung, yaitu Oval Research.

Mengutip dari swa.co.id, pada awalnya, Rizki dan rekannya dalam komunitas skate Bandung, sekitar tahun 2000-an mulai merintis usaha clothing dengan mendirikan Ouval Research. Merek dagang tersebut akhirnya dikenal masyarakat. Bahkan hingga tahun 2019 ini, gerainya sudah tersebar di 9 kota di Indonesia. Selain Ouval Research yang berbasis di Bandung, ada juga merek dari Jakarta yang tidak kelah besar saat ini, yaitu Thanksinsomnia. Distro yang berdiri pada 2013 juga sama-sama berangkat dari tren fashion pemain skateboard.

Dimulai Dengan Cara Tak Terduga

Pemilik Thanksinsomnia, Mohan Hazian, awalnya mencoba bisnis clothing ini setelah menjadi broker pesanan kaos dan tas untuk orang lain. Mantan sales rokok ini kemudian mulai mengerti tentang bisnis clothing tersebut, dan semakin memperdalam ilmu dalam industri busana dan fashion. Merek dagang milik Mohan Hazian ini adalah salah satu yang merasakan mudahnya memasarkan produk dengan bantuan media sosial. Saat itu media yang paling ideal dijadikan sarana pemasaran adalah Blackberry Messanger.

Mulai Terkenal

Selain itu, diakui Mohan, bahwa brandnya mulai naik ketika ia melihat pembawa acara di TV menggunakan kemeja full print. Melihat itu, Mohan lantas melihat peluang untuk menggarap kemeja dengan model yang sejenis seperti pembawa acara TV tersebut. Ia mengaku demand untuk kemeja full print ternyata tinggi.

Saat ini, selain kemeja, kaos dan sweater dengan desain yang berciri tipografi Thanksinsomnia, Mohan mengaku tengah merambah ke penjualan kursi dan handuk. Hal ini, menurut Mohan, dikarenakan semakin banyaknya saingan dan banyaknya ide-ide kreatif anak muda yang bermunculan.

Ilustrasi

Ekosistem yang Dinamis

Merek streetwear nasional semakin berkembang dan pesat pertumbuhannya di setiap kota. Pun dengan ekosistem yang bergerak bersama denyut dan spirit yang ada di dalamnya.

Mengutip dari Kompas.com, acara kumpul-kumpul Distro seperti Jackcloth ternyata bisa meningkatkan daya tarik usaha dalam bidang fashion dan busana. Telah tercatat pada acaranya yang berlangsung pada tahun 2018 di Jakarta, terdapat 380 tenant yang menawarkan kaos, denim, jaket, celana, dan sepatu. Pada tahunnya yang ke-sembilan, Jackcloth berhasil mengajak 250.000 pengunjung selama lima hari perhelatannya.

Masih pada tahun yang sama, Pekan Raya Indonesia (PRI) yang diadakan di ICE BSD Tangerang berhasil mendatangkan 80 merek lokal, mulai dari cloting distro, fashion, merchandise, dan lainnya. Hal ini tentu memberikan angin segar terhadap perkembangan dunis fashion tanah air, khususnya pelaku usaha yang bergerak dalam industri konveksi (distro).

Semakin Berkembang di Indonesia

Sementara itu, dari sisi pemerintah, fashion streetwear ini telah dilirik sebagai industri kreatif yang dapat dikembangkan. Seperti diboyongnya lima merek lokal pada acara pameran streetwear yang diadakan di California, Amerika Serikat pada 2018 lalu.

Keikutsertaan lima merek mode lokal dalam acara tersebut merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan industri fashion sebagai sektor unggulan ekonomi dan kreatif di Indonesia. Adapun proses pengikutsertaan lima merek tersebut, sebelumnya telah dikurasi oleh panitia yang ditetapkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), selaku yang memberikan fasilitas kegiatan tersebut.

Lima merek lokal yang berhasil menarik perhatin Bekraf untuk diboyong ke Amerika, adalah Elhaus (busana lelaki modern dan denim), Paradise Youth Club (gaya 90’s skate dan musik), OldblueCo (denim), Monstore (koleksi unisex, apparel, home), dan Potmeetspop (denim). Ekosistem berdagang, khususnya busana, saat ini telah mengalami perubahan yang siginifkan. Sebelum adanya gempuran media sosial dan juga toko online yang memudahkan pelaku usaha dalam memasarkan dagangannya, bisnis busana ini hanya berpusat pada penjualan di toko. Namun dengan media sosial, promosi dan pengenalan merek dagang akan lebih mudah menjangkau pasar.

Kejar Mimpi dengan Busana

Seperti kata Ralph Lauren, ia tidak merancang busana, tapi ia merancang mimpi: merancang mimpi dengan busana. Peluang usaha dalam dunia fashion memang bergerak seiring tren yang sedang berkembang di masyarakat. Untuk mendapatkan untung dari peluang tersebut perlu ide yang kreatif untuk mengembangkan usaha yang sudah dijalankan ataupun bagi yang ingin memulainya.

Menggunakan tren fashion masa kini yang sedang berkembang di masyakarat sebagai ide membangun usaha, barangkali dapat dijadikan pilihan berkendara dalam mencapai mimpi. Perihal masalah pemilihan passion yang sesuai atau tidak sesuai untuk menyukai jenis usaha, tidak ada salahnya mencoba menjajakan kaki pada jenis usaha fashion yang selalu bergerak dinamis.

Dapatkan konten menarik lainya dari Mbiz untuk peluang usaha yang lebih baik. Seperti konten merancang mimpi dengan busana

Tulis Komentar