Waktu Baca / 6 Menit

Ekonomi suatu negara menjadi tolak ukur dalam melihat apakah negara tersebut sukses atau tidak. Maka dari itu, pemerintah senantiasa menjaga agar ekonomi negara tersebut tetap stabilitas melalui penetapan berbagai kebijakan fiskal dan moneter.

Nah, maka dari itu pengertian kebijakan ini berkaitan dengan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pengertian Kebijakan Fiskal

Kebijakan Fiskal digunakan untuk memberikan penjelasan tentang bentuk pendapatan pemerintah yang berasal dari masyarakat. Pendapatan itu dianggap sebagai pendapatan yang nantinya akan digunakan sebagai pengeluaran negara untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negara.

Kebijakan fiskal juga digunakan oleh pemerintah untuk meningkatkan atau menurunkan pendapatan atau anggaran negara. Hal ini membuat pemerintah memiliki kewenangan untuk menentukan besaran anggaran atau pendapatan yang dikeluarkan pada program tertentu.

Tujuan Kebijakan Fiskal

Kebijakan ini juga penting bagi suatu negara. Oleh karena itu, kebijakan ini adalah kebijakan untuk stabilitas perekonomian atau stabilitas harga. Berikut ini tujuan kebijakan fiskal dan alasan kenapa kebijakan ini diberlakukan.

1. Pertumbuhan Ekonomi

Suatu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat diberlakukannya kebijakan fiskal. Jika perekonomian negara meningkat, maka perkembangan bisnis semakin nyata dan masyarakat akan memperoleh pendapatan yang tinggi. Nah, pendapatan masyarakat yang tinggi inilah yang menjadi tolak ukur kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.

Pemerintah dalam mendorong ekonomi melalui kebijakan ini dengan cara mengurangi pajak. Jadi, masyarakat bisa lebih banyak membelanjakan pendapatan yang sejatinya dapat meningkatkan investasi dan pendapatan bisnis. Apabila pengeluaran pemerintah lebih tinggi maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat.

2. Stabilitas Harga

Kebijakan fiskal juga dapat mempertahankan harga umum pada tingkat yang layak. Jadi, jika harga umum turun secara tajam maka akan mendorong timbulnya pengangguran karena sektor usaha kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Hal ini akan membuat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja sehingga akan banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.

Namun, jika harga umum naik tajam dan terus meningkat maka memberikan dampak yang baik untuk perekonomian suatu negara. Hal ini akan membuat negara mampu menciptakan kesempatan kerja penuh dan memberikan keuntungan kepada sebagian orang. Namun, bagi masyarakat yang memiliki penghasilan rendah akan tetap menderita karena nilai uang akan terus menurun dan membuat mereka semakin miskin.

3. Mencegah Pengangguran

Pencegahan pengangguran adalah tujuan utama kebijakan fiskal diberlakukan. Namun, kegagalan dalam mencapai kesempatan kerja yang penuh atau pengangguran akan membuat tidak tercapainya tingkat pendapatan nasional yang tinggi. 

Tak hanya itu saja, banyaknya pengangguran juga akan membuat laju pertumbuhan ekonomi tidak tumbuh maksimal dan bisa menurun. Adanya penerapan kebijakan ini tepat dapat mencegah pengangguran sehingga output nasional tetap tumbuh. Hal ini terjadi karena adanya kesempatan kerja penuh dapat tercapai dan membuat pendapatan nasional tinggi dan laju pertumbuhan ekonomi yang baik.

4. Meningkatkan Output Industri dan Pertanian

Kebijakan fiskal berpengaruh secara langsung atau tidak langsung pada sektor-sektor ekonomi tertentu. Contohnya, kebijakan fiskal memiliki dampak langsung pada nilai tanah di sektor pertanian. Kebijakan fiskal dapat digunakan untuk meningkatkan output dari beberapa sektor dalam perekonomian.

5. Kontrol Konsumsi

Apabila negara tidak meningkatkan investasi, maka negara juga tidak dapat meningkatkan posisi ekonominya. Jika tingkat konsumsi masyarakat tidak terlalu cepat, maka tabungan dan investasi otomatis turun. Maka dari itu, adanya kebijakan ini untuk memainkan peran mengawasi tingkat konsumsi.

6. Memastikan Distribusi Sumber Daya yang Setara

Jika distribusi sumber daya alam adil di berbagai kelas masyarakat, maka daya beli masyarakat juga akan meningkat. Hal ini mengarah pada tingkat produksi yang tinggi sehingga dapat menurunkan tingkat pengangguran.

Jenis-jenis Kebijakan Fiskal

Jika sudah mengetahui pengertian dan tujuan kebijakan fiskal, Anda juga perlu mengetahui apa saja jenis-jenis kebijakan fiskal. Berikut ini jenis-jenis kebijakan fiskal yang bisa Anda ketahui. 

1. Kebijakan Fiskal Fungsional

Kebijakan fungsional yaitu kebijakan fiskal yang digunakan untuk mempertimbangkan penerimaan dan pengeluaran anggaran pemerintah yang ditentukan dengan melihat akibat tidak langsung terhadap pendapatan nasional terutama untuk meningkatkan kesempatan kerja.

2. Kebijakan Fiskal yang Disengaja

Kebijakan fiskal yang disengaja adalah kebijakan yang dipergunakan untuk mengatasi masalah ekonomi dengan cara memanipulasi anggaran belanja dengan sengaja, baik melalui perubahan pajak atau perubahan pengeluaran pemerintah. 

Bentuk kebijakan fiskal yang disengaja adalah membuat perubahan pengeluaran pemerintah, membuat perubahan pada pemungutan pajak dan membuat perubahan secara serentak baik dalam pengelolaan pemerintah atau sistem pemungutan pajaknya.

3. Kebijakan Fiskal yang Tidak Disengaja

Kebijakan fiskal yang tidak disengaja ini adalah kebijakan yang mengendalikan kecepatan siklus bisnis agar tidak terlalu fluktuatif.  Jenis-jenis kebijakan fiskal tidak disengaja yaitu pajak progresif, proposal, kebijakan harga minimum dan asuransi pengangguran.

4. Kebijakan Fiskal Seimbang

Kebijakan yang membuat penerimaan dan pengeluaran menjadi seimbang atau sama jumlahnya. Fiskal Seimbang memiliki dampak positif yaitu, negara tidak perlu meminjam sejumlah uang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun juga memiliki dampak negatif yaitu kondisi perekonomian negara bisa terpuruk jika ekonomi negara sedang tidak menguntungkan.

5. Kebijakan Fiskal Surplus

Dalam kebijakan ini, jumlah pendapatan harus lebih tinggi daripada pengeluaran. Maka dari itu, kebijakan ini adalah cara yang digunakan untuk menghindari inflasi.

6. Kebijakan Fiskal Defisit

Kebijakan ini berlawanan dengan sebelumnya. Fiskal Desifit mampu mengatasi kelesuan dan depresi pertumbuhan perekonomian, yang merupakan kelebihan dari kebijakan ini. Namun kebijakan ini juga memiliki kekurangan yaitu negara selalu dalam keadaan defisit.

Kebijakan ini merupakan defisit dibagi menjadi beberapa yaitu defisit primer yang menghitung defisit berdasarkan selisih antara belanja di luar pembayaran pokok dan bunga hutang dengan pendapatan. Defisit operasional adalah kebijakan yang digunakan untuk melakukan perhitungan yang diukur dalam nilai riil, bukan dalam nilai nominal.

Kebijakan defisit konvensional yaitu perhitungan berdasarkan selisih antara total pembelanjaan dengan total pengeluaran termasuk hibah. Defisit moneter yaitu perhitungan berdasarkan selisih antara total pendapatan dengan total pembelanjaan negara. 

7. Kebijakan Fiskal Dinamis

Kebijakan fiskal dinamis adalah kebijakan yang menyediakan pendapatan yang bisa digunakan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Komponen Dalam Kebijakan Fiskal

Kebijakan ini juga memiliki beberapa komponen-komponen penting. Namun, secara umum komponen fiskal ada 5  yang terdiri dari kebijakan perpajakan, pengeluaran, investasi, budgeting dan pengelolaan utang. Berikut penjelasan lengkap tentang komponen-komponen kebijakan.

1. Kebijakan Perpajakan

Kebijakan perpajakan adalah kebijakan yang diberlakukan dalam penentuan kebijakan. Pajak adalah sumber pendapatan pemerintah yang terbesar baik dari pajak langsung ataupun pajak tidak langsung. Kebijakan ini ditetapkan dengan tujuan  menjaga pajak progresif melalui keputusan pemberlakuan pajak.

Naiknya tarif pajak dapat mengurangi daya beli masyarakat terhadap barang atau jasa dan berimbas pada penurunan produksi dan investasi. Namun, jika tarif pajak diturunkan maka masyarakat juga akan memiliki kesempatan untuk membelanjakan uangnya sehingga dapat meningkatkan inflasi.

2. Kebijakan Pengeluaran

Kebijakan ini adalah kebijakan yang berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran modal dalam negara. Pengeluaran modal ini dilakukan untuk berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan dan sebagainya serta membayar kewajiban negara beserta bunga internal maupun eksternal.

Adanya anggaran pemerintah akan sangat penting untuk mewujudkan pengeluaran pemerintah yang efektif dalam suatu negara. Kebijakan pengeluaran ini dapat digunakan sebagai pelunasan terhadap pembiayaan defisit dalam mengisi kesenjangan antara pendapatan dalam belanja negara.

3. Kebijakan Investasi dan Disinvestasi

Pertumbuhan ekonomi akan berada dalam keseimbangan jika optimalisasi investasi ditingkatkan. Namun, beberapa tahun belakangan ini, arus modal internasional semakin meningkat dan memberikan dampak yang cukup besar. Nah, dari arus modal internasional ini dapat diintegrasikan secara baik dengan ekonomi global.

4. Pengelolaan Utang atau Surplus

Jika pendapatan yang diterima oleh pemerintah lebih besar dibandingkan dengan anggaran yang dihabiskan maka negara tersebut mengalami surplus. Namun, apabila terjadi kondisi sebaliknya maka negara tersebut mengalami defisit atau kerugian. Defisit dapat diatasi dengan melakukan peminjaman dana atau mencetak uang.

5. Budgeting

Kebijakan fiskal dapat beroperasi lewat anggaran atau budgeting. Maka dari itu, kebijakan ini bisa juga disebut dengan kebijakan anggaran. Anggaran negara adalah instrumen yang sangat berguna untuk menilai fluktuasi ekonomi. Prinsip anggaran yang berbeda telah dirumuskan oleh para ekonom, atau dikenal sebagai anggaran tahunan, anggaran berimbang siklus dan anggaran kompensasi terkelola penuh.

Kebijakan Moneter

Selain fiskal, ada juga kebijakan moneter. Kebijakan Moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah lewat bank sentral untuk mengontrol jumlah uang yang beredar dalam masyarakat.

Kebijakan moneter dilakukan untuk mengendalikan kondisi perekonomian negara. Berikut informasi mengenai kebijakan moneter.

Jenis kebijakan moneter ada 2 yaitu kebijakan ekspansif dan kebijakan kontraktif. Kebijakan ekspansif atau disebut juga dengan kebijakan uang longgar dapat dilakukan melalui bank sentral yang memiliki tujuan untuk menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat ketika negara mengalami resesi atau depresi.

Sedangkan kebijakan kontraktif atau kebijakan uang ketat adalah kebijakan yang dilakukan melalui bank sentral untuk mengurangi peredaran jumlah uang ketika negara mengalami inflasi.

Beberapa tindakan yang dilakukan dalam kebijakan kontraktif adalah menaikan suku bunga, menaikan cadangan kas, menjual sertifikat Bank Indonesia, dan memperketat syarat pemberian kredit.

Instrumen Kebijakan Moneter

Instrumen kebijakan adalah langkah-langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk mencapai kebijakan moneter. Berikut adalah 5 instrumen, yaitu :

1. Operasi Pasar Terbuka

Operasi ini adalah kegiatan untuk memperlambat laju inflasi oleh Bank Indonesia dengan cara jual beli surat-surat berharga dan obligasi.

2. Kebijakan Diskonto

Kebijakan ini dilakukan dengan cara menaikan suku bunga bank dengan tujuan mengurangi jumlah peredaran mata uang.

3. Cadangan Kas Minimum

Instrumen ini adalah instrumen yang berupa kebijakan Bank Indonesia untuk menaikan maupun menurunkan cadangan kas bank umum yang memiliki tujuan untuk mengatasi inflasi maupun deflasi.

4. Kebijakan Kredit Selektif

Kebijakan ini adalah kebijakan Bank Indonesia yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis pinjaman yang harus dikurangi atau ditambah.

5. Imbauan Moral

Instrumen ini adalah kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan cara memberikan saran melalui pengumuman, pidato, atau anjuran di media massa berupa ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan atau melepaskan pinjaman kepada khalayak umum.

Kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang merupakan bagian dari ekonomi umum pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran anggaran pemerintah, dan semua kesejahteraan semua proyek diselesaikan di bawah kebijakan ini.

Kebijakan ini juga dapat membuat langkah-langkah untuk mengendalikan fluktuasi ekonomi.

Tulis Komentar