Reading Time: 2 minutes

Virus corona atau COVID-19 masih mewabah di sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia. Penting sekali untuk melakukan deteksi dini terhadap orang yang terinfeksi virus lewat rapid test. Ada banyak jenis alat tes cepat yang digunakan, salah satunya Egens. Berikut akan dijelaskan secara singkat cara kerja Egens rapid test COVID.

  • Menggunakan Antibodi

Pada dasarnya ada dua jenis rapid test yang saat ini digunakan untuk mendeteksi penderita COVID-19. Ada tes berdasarkan antigen dan ada juga yang berdasarkan antibodi. Indonesia menerapkan sistem tes diagnosis cepat dengan memakai antibodi. Antibodi merupakan pertahanan tubuh yang tercipta untuk melawan virus.

Tes berdasarkan antibodi artinya memeriksa apakah di dalam tubuh kita terdapat antibodi. Jika orang yang diperiksa memang terinfeksi virus, maka tubuhnya akan memiliki antibodi tersebut. 

  • Tanda Positif

Alat rapid test berdasarkan antibodi memiliki antigen yang digunakan untuk menguji sampel. Jika sampel darah mengandung antibodi, maka antibodi dan antigen akan bertemu. Pertemuan ini kemudian akan membuat alat tes menunjukkan hasil yang positif. 

Namun, perlu diketahui bahwa antibodi tersebut tidak hanya dijumpai pada orang yang sedang terinfeksi. Antibodi ini juga bisa muncul pada orang yang pernah terpapar virus meskipun sudah sembuh. Selain itu, identifikasi antibodi COVID-19 atau virus yang lain juga dibutuhkan pemeriksaan yang lebih lanjut di laboratorium.

  • Kurang Akurat

Sebenarnya metode diagnosis cepat dengan alat rapid test ini tidak sepenuhnya akurat. Perlu diketahui bahwa antibodi dalam tubuh kita tidak langsung terbentuk setelah terinfeksi. Ia akan terbentuk saat ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Proses terbentuknya antibodi juga tidak berlangsung tiba-tiba namun butuh waktu.

Hasil pemeriksaan bisa saja negatif namun sebenarnya ada virus yang sudah masuk ke tubuh. Hal ini disebabkan oleh antibodi yang belum terbentuk. Virus baru saja masuk dan tubuh belum membentuk antibodi untuk melawannya. Itulah mengapa bisa saja hasil negatif muncul padahal sudah ada virus yang menginfeksi.

  • Pengulangan

Tidak mungkin mendapatkan hasil yang akurat hanya dengan satu kali melakukan tes. Rapid test antibodi ini harus diulang 7 hingga 10 hari kemudian jika hasilnya negatif. Hal ini dilakukan untuk mendapat hasil yang akurat. Bisa saja antibodi baru muncul pada 7 hingga 10 hari ke depan sehingga tidak tertangkap Egens rapid test COVID.

Lalu bagaimana jika hasilnya positif? Hasil ini juga tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan. Bisa saja hasilnya adalah positif palsu karena antibodi virus COVID-19 menyerupai antibodi virus yang lain. Perlu dilakukan pemeriksaan swab untuk memastikan bahwa pemilik sampel memang terinfeksi COVID-19. 

  • Murah dan Cepat

Pada dasarnya tes diagnosis cepat ini memang memiliki banyak kekurangan dan perlu dilakukan tes lanjutan. Namun, di sisi lain tes ini sangat membantu untuk memindai para pasien yang terinfeksi COVID-19. Proses pemeriksaan bisa berlangsung cepat dan praktis tanpa pemeriksaan laboratorium. 

Baca juga : Makin Mudah Deteksi Infeksi Virus COVID-19 dengan Hightop Rapid Test

Biaya pemeriksaan cepat ini juga cenderung memakan biaya yang lebih murah daripada tes PCR. Dalam waktu kurang dari 1 jam, hasil tes sudah bisa didapatkan secara langsung. Meskipun hasilnya memang kurang akurat, namun metode ini sangat efektif untuk memindai penderita COVID-19 sehingga penularan bisa ditekan. Rapid test tetap menjadi metode yang efektif untuk menekan laju penularan COVID-19. Semakin dini diketahui seseorang terinfeksi maka akan semakin baik. Egens rapid test COVID menjadi salah satu alat tes yang banyak digunakan saat ini. Produk ini bisa membantu proses rapid test dan memberikan hasil pemeriksaan yang cukup baik.

Penulis

Tulis Komentar